Dalam Kehidupan setiap manusia selalu menghadapi ujian dan cobaan, dimana kedua hal tersebut bukanlah menjadi penghalang bagi kita untuk terus hidup dan berhenti berusaha di dunia ini. Ujian dan cobaan tersebut berbagai macam bentuknya, baik yang langsung berimbas kepada fisik dan tubuh kita seperti sakit, luka, namun ada juga yang langsung menusuk ke hati atau jiwa seperti dicaci, dihina, atau bahkan dikritik sekalipun.
Berikut ada 3 tips dalam menghadapi kritikan ;
1. Senyum dan ucapkanlah "terima kasih"
Awalilah dengan sebuah senyuman disertai ucapan "terima kasih". Bila Anda dikritik lalu Anda langsung mengucapkan dua kata ini plus sebuah senyuman maka si pengkritik akan langsung tahu bahwa Anda bukanlah orang sembarangan. Mengucapkan "terima kasih" plus senyum pada saat dihujani kritik adalah sebuah sinyal bahwa Anda sudah dewasa dan matang. Kata "terima kasih" dan senyum juga bisa menjadi "serangan balik" yang baik bagi mereka yang mengkritik karena biasanya mereka belum tentu akan melakukan hal yang sama pada saat dirinya yang kena kritik.
Dan satu lagi, mengucapkan "terima kasih" dan tersenyum tidak akan menurunkan status Anda. Bila Anda adalah pegawai yang tersenyum dan mengucapkan "terima kasih" pada saat dikritik, maka Anda tidak akan turun pangkat dengan melakukannya. Begitu pula dengan pedagang, reputasi Anda tidak akan menurun bila Anda mengucapkan dua kata tersebut plus melontarkan sebuah senyuman. Bahkan tidak jarang, hal ini justru bisa membuat pelanggan Anda akan tambah sayang dan setia pada warung atau toko milik Anda. Buktikan deh kalau tidak percaya.
2. Dengar dahulu, respon belakangan
"Nasinya kok sedikit"."Wah makanannya kurang enak". "Bajunya kok mahal banget". "Modelnya jadul sekali". Empat kalimat tadi adalah beberapa contoh kritikan yang sering menerpa mereka yang punya warung makan dan toko baju. Suka atau tidak suka, kritikan-kritikan tadi adalah sebuah kenyataan yang harus diterima meski terkadang belum tentu benar. Tidak jarang, orang yang dikritik sering menanggapi pesan-pesan tadi dengan marah dan emosional. Mereka cenderung membalas kritikan tersebut dengan kritikan balik yang sama sekali tidak diperlukan dan bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan inti kritikan tersebut. Dengan kata lain, pihak yang dikritik justru fokus pada manusia yang mengkritik alih-alih pada pesan dalam kritikan tadi. Misalnya saja dengan berucap, "Ah, baru makan sekali saja sudah belagu.", untuk menjawab kritikan pertama; atau "Situ saja yang rakus. Pelanggan lain tidak begitu kok.", untuk membalas kritik kedua; "Kalau mau murah cari merek lain di toko sebelah saja Pak/Bu.", dan seterusnya.
Bila memang itu yang sudah terjadi, maka kedua belah pihak tadi tidak akan menerima manfaat apapun dari kritik-kritik tersebut. Si pengkritik rugi, pedagang pun bernasib sama. Si pengkritik akan rugi karena ia akan kehilangan satu tempat lagi untuk mencari makanan atau barang yang ia inginkan, sementara si pedagang juga akan ketiban hal yang sama karena ditinggal satu lagi calon pembeli yang sudah "ilfil" dengan toko atau warungnya. Parahnya lagi, si calon pembeli tadi biasanya akan membawa kisah pilunya ke teman, sanak, atau keluarganya. Untuk melengkapi penderitaan yang sudah ia alami, sebagai manusia yang tersakiti, biasanya ia juga akan mencegah kenalannya untuk mengalami hal yang sama, meski di lapangan hal yang sama belum tentu terulang.
Solusi dari keadaan di atas adalah dengan mencoba untuk menjadi pendengar yang baik terlebih dahulu. Sebagai pendengar, Anda tidak perlu menanggapi kritik yang masuk dengan emosi yang sama seperti yang sudah ditampilkan oleh si pengkritik. Dengan mendengarkan, Anda akan mendapatkan keuntungan besar yakni mengambil inti dari kritikan yang masuk. Seperti contoh di atas, inti dari kritik yang berbunyi "Wah, nasinya kok sedikit" adalah dengan menambahkan porsi nasi KHUSUS buat pelanggan yang merasa kurang tadi. Tapi supaya Anda tidak rugi, Anda juga berhak untuk menaikkan harga nasi tersebut secara diam-diam alias tanpa pengumuman terlebih dahulu. Jadi, bila porsi normal sepiring nasi di warung Anda adalah Rp3.000,00 berarti khusus untuk si pelanggan tadi harganya akan menjadi Rp4.000,00 atau Rp5.000,00. Sebuah harga spesial yang diharapkan tidak akan menyakiti perut sekaligus kantong pelanggan tersebut. Kalau bisa begini, warung Anda dijamin aman. Insyaallah.
3. Tidak ada yang sempurna, termasuk si pengkritik
Anda sudah berusaha memperbaiki terus-menerus tapi kritik terus saja datang, lalu apa yang harus Anda lakukan? Ya tipsnya sama; senyum, terima kasih, dengar dulu, dan menerima ketidaksempurnaan, lalu kembali lagi ke nomor satu tadi. Di dunia ini, manusia bukanlah makhluk yang ditakdirkan untuk sempurna. Semua orang pasti memiliki kekurangan. Hal yang sama juga berlaku untuk merk, toko, atau warung makan. Terkadang kesalahan ada di cara Anda melayani, terkadang kurang garam, terkadang salah warna, terkadang salah ukuran, dan seterusnya. Bila direnungi, posisi Anda yang dikritik seharusnya sama dengan mereka yang mengkritik, yakni sama-sama tidak sempurna. Jadi, keberanian kita untuk membuat kesimpulan bahwa kita selaku individu maupun tim tidak akan pernah sempurna akan menjadi pondasi yang kuat untuk terus melangkah ke depan tanpa harus berlebihan menyikapi serangan-serangan dari pihak luar, termasuk kritikan.
Tapi, kenyataannya, di luar sana memang tidak ada yang bebas dari kritikan. Perusahaan besar kena kritik, perusahaan sedang juga kena, apalagi yang masih berskala kecil. Apple, Inc. pernah dikritik karena menjual iPhone tanpa keypad QWERTY, Google pernah dikritik karena dianggap hanya mengcopy-paste hasil pekerjaan Apple melalui Android-nya, Microsoft dikritik karena sering keluar dari rel utamanya sebagai pembuat software, Starbucks dikritik karena menjual kopi dengan harga yang terlalu fantastis (Rp48.000,00 untuk jenis frappuchino), dan seterusnya.
Kesimpulannya? Tidak ada yang bebas dari kritikan bukan? Semua manusia bisa menjadi dua pihak sekaligus, pengkritik dan yang dikritik. Namun di posisi manapun Anda berada, pastikan tahu cara memainkannya. Karena bila tidak, maka Anda sendiri yang akan kena getahnya. Wallahu'alam bisshawab.
Mudah-mudahan bermanfaat bagi sahabat semua.
Dihimpun dari berbagi berbagai sumber dan pengalaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar